.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Gudang Cerita

selamat datang di mystory dan selamat membaca

Minggu, 04 Oktober 2015

cerpen

TEPI JALAN KENANGAN
Karya Maria Ulfa

“Rana, nanti siang sesudah dzuhur kau ada acara tidak?” Tanya sesorang dari sebrang telephon. Rana, si gadis berwajah manis itu merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk, “Acaraku sesudah dzuhur, Aku akan bertemu Allah.” Jawab Rana.
“Kenapa?” tanya suara itu lagi dari sebrang.
“Awalnya aku ingin mengajakmu kesuatu tempat. Tapi tak apalah jika kau tak bisa. sudah dulu yah.” tutup si penelepon dengan nada kecewa.
Rana melempar Hp nya asal, begitu saja. Ia menatap langit-langit kamarnya yang berwarna biru langit. Sebenarnya apa yang sedang kulakukan? Batinnya.
“Sebenarnya apa itu, bertemu Allah.” Gumamnya dengang senyum kecut.
***

Rana mengawali rutinitas minggu itu dengan berdiri dilapangan untuk upacara bendera, dilanjutkan dengan berdiam diri di kelas dari pagi hingga siang untuk sesuatu yang dinamakan, belajar.
Bel sekolah pun berbunyi tepat pukul dua siang. Rana merapikan buku-bukunya, dan memasukkannya ke dalam tas. “Rana!” panggil seseorang dari bibir pintu kelas. Rana menoleh. Didapatinya, Mita si gadis berkerudung yang kemarin meneleponnya. Rana meraih tasnya dan bergegas menghampiri Mita, lalu mereka berjalan beriringan. “Ada apa? sebegitu pentingkah acara kemarin hingga kau cepat-cepat datang ke kelasku?”

Mita mendengus, “Sebenarnya kemarin aku ingin memperkenalkanmu pada guru Agamaku yang baru.” Ucap Mita. “Rana!” pekik Mita tepat ditelinga Rana. “Dia sangat, sangat tampan!” ucapnya histeris. Mita terus bercerita tentang guru agama yang bernama Fauzan. Seorang penulis dan pandai agama. Buku terbarunya berjudul Syukur. Entahlah buku yang seperti apa. Rana yakin buku itu sangat membosankan.
“Aku harus pergi sekarang.” Pamit Rana ketika sampai dipintu gerbang.
“Buru-buru sekali? Memangnya kau mau kemana?” tanya Mita heran.
“Bertemu Tuhan.”
***

Rana berdiri ditepi jalan, menunggu mobil angkot yang akan langsung membawanya ke rumah. tapi keinginan Rana untuk cepat-cepat pulang, dihalangi dengan sebuah rasa penasaran yang teramat. Tanpa sengaja pandangan matanya melihat dua orang lelaki berwajah sangar sedang mendekap seorang lelaki. Sepertinya kedua lelaki itu berandalan. Dan lelaki itu adalah seorang pengamen. Rana yakin dua berandal itu memaksa si pengamen jalanan untuk mengikuti mereka memasuki sebuah gang buntu yang ada disebrang jalan. mungkin pengamen jalanan itu akan dianiya oleh kedua lelaki sangar tadi, atau mungkin mereka sedang melakukan transaksi obat-obatan terlarang. Rana benar-benar ingin tau apa yang sedang mereka lakukan. Ia pun meninggalkan tujuan awalnya untuk segera pulang. Ia bergegas menyebrangi jalan yang kebetulan lengang itu. Rana melangkah perlahan, ketika dirinya telah dekat dengan gang buntu dan gelap itu. ia mendengar suara-suara ribut dari dalam. “Mana uangnya!” bentak salah satu dari mereka dengan pekikan keras.
“Hari ini sama sekali tak ada uang.” Suara lembut itu menjalar ke daun telinga Rana.
Salah satu dari kemungkinan-kemungkinan yang bertebaran bagai debu halus diotak Rana benar-benar terjadi. Ternyata kedua lelaki itu sedang mencoba merampas uang si pengamen. Karena tak tega dengan nasib si pengamen, Rana yang awalnya berdiri dibalik tembok sambil mengintip, memberanikan diri untuk berdiri tepat ditengah jalan masuk gang itu.
“Hei! Kalian sedang apa??” tanya Rana lantang membuat perhatian lelaki-lelaki itu terfokus padanya. Tepat ketika lengah, si pengamen itu tiba-tiba bergegas lari, meraih lengan baju panjang Rana, membuat Rana ikut berlari dengan si pengamen.

Cukup lama Rana ikut berlari dengan si pengamen tanpa ada tujuan yang jelas. Hingga si pengamen menghentikan larinya. Napas Rana langsung berpacu cepat, Rana butuh beberapa menit untuk mengatur napasnya agar kembali seperti semula.
“Apa kau sudah gila? Kenapa kau membawaku lari bersamamu?” gerutu Rana kesal.
Si pengamen itu menoleh kearah Rana, menatap sesaat lalu menunduk. “Maaf. Jika aku tak menarik lengan bajumu, kau yang akan menjadi sasaran selanjutnya.” Untuk kedua kalinya suara lembut itu kembali menyelusup ke daun telinga Rana.Suara yang sangat menenangkan hatinya.
“Oh yah, terima kasih karena kau telah menjadi super hero kali ini.” ucapnya seraya tersenyum simpul. Lalu ia melangkah pergi begitu saja.
Rana masih berdiri di tempat yang sama, melihat punggung lelaki itu menjauh, melangkah di jalan yang lengan.
Tapi kenapa lelaki itu tidak menyebrang? Kenapa ia malah berdiri di tengah jalan, apa ia tak takut ada mobil yang menabraknya? Batin Rana. Terakhir ia liat lelaki itu memungut sesuatu di tengah jalan, dan membawanya pergi begitu saja.
***

Rana menunggu mobil angkot di tepi jalan yang sama dengan kemarin. Tepi jalan yang mempertemukannya dengan lelaki berumur 20 tahunan itu. Pengamen. Rana yakin lelaki itu adalah seorang pengamen, karena tak jauh dari tempat Rana berdiri ada pertigaan lampu merah, tempat dimana pengamen biasanya dengan mudah ditemukan.
Tapi, kenapa Rana masih memikirkan si pengamen itu? siapa pengamen itu hingga berani memenuhi isi kepala gadis manis itu? lagi pula kenapa ia harus memikirkannya? Rana meyakinkan dirinya jika pertemuan mereka hanya kebetulan. Dan kebetulan tidak akan terjadi dua kali. Sebuah angkot biru dengan dua orang penumpang didalamnya, berhenti dihadapan Rana. Seharusnya Rana segera naik angkot itu, tapi kenapa ia malah diam terpaku di tempatnya. Menatap lurus angkot itu, namun enggan naik ke dalamnya. Rana menggerakkan kakinya, melangkah, kemudian-ia berlari! Berlari meninggalkan angkot biru itu untuk menyebrangi jalanan yang lengang. Hey! Kenapa ia berlari? Ada apa dengan gadis itu?

Rana melangkah perlahan mendekati gang yang sama dengan kemarin. Berdiam diri dibalik tembok, dan mencoba berkonsentrasi. Berharap ia dapat mendengar percakan dari dalam sana.
“Kau berani pada kami?” bentak salah seorang dari mereka.
“Kau fikir aku takut padamu?” jawab suara lainnya. suara yang lembut dan membuat hatinya terasa nyaman. Rana yakin lelaki itu ada di dalam sana. “Sama sekali tidak.” Tambahnya.
“Yang kutakuti Hanya Allah. Tuhanku!” seru lelaki itu.
Darah Rana mendesir mendengar kata itu. Hatinya bergetar hebat. Baru pertama kalinya ia merasa takut. Yah, ia merasa takut mendengar kata yang lelaki itu ucapkan. Tapi, ia juga merasa ada sebuah nikmat yang menjalari tubuhnya. “Lagi, ucapkan lagi,,” pinta suara yang ada dalam sudut hatinya. “Cukup! Cukup sekali kau mendengarnya, dasar manusia serakah!” bentak suara dari sudut hatinya yang lain.
“Kau ingin MATI yah??” bentak salah satu berandal dari gang buntu itu, membuat Rana terbebas dari pertikaian hebat yang berkecambuk dihatinya. Ia harus bertindak. Tapi bagaimana? Menggunakan cara konyol seperti kemarin. Ah! Sudahlah!
***

Untuk kedua kalinya, ia berlari di hari yang terik. Sendiri? Tidak ia tak sendiri. Lelaki itu bersamanya. Gadis itu sadar betapa bodohnya ia. Ia telah melakukan hal gila yang sama untuk kedua kalinya. Sok menjadi super hero di depan para berandal untuk menyelamatkan lelaki yang tak dikenalnya. Landasan teori apa yang membuatnya seperti itu? rasa kemanusiaan kah? Hah. Entahlah.
Lelaki itu memperlambat gerak kakinya, dan akhirnya berhenti di depan sebuah taman kota yang sedikit pengunjung siang itu. Karena telah berlari cukup lama, mereka pun memutuskan beristirahat dengan duduk disalah satu kursi panjang yang ada disana.
“Kenapa kau tak memberikan uangmu pada mereka?” tanya Rana kesal.
Lelaki itu menatap Rana sesaat, tersenyum simpul, lalu menatap langit. “Dia sudah memberikannya padaku. Jadi aku harus menjaganya.”
“Jadi kau benar-benar ingin dihajar para berandalan itu hingga kau mati?”
“Dia telah mempercayakan tubuh ini padaku. Jadi, aku akan melindunginya.” Rana menatap heran siluet wajah lelaki itu.
“Tapi kau tak bisa mempertahankan keduanya sekaligus.” Ujar Rana.
“Bisa. Dia telah mempercayakannya padaku. Jadi aku harus bisa menjaganya hingga waktunya semua itu akan diminta kembali.” Sebuah jawaban yang terdengar bijak, namun sulit dimengerti. Hanya manusia-manusia hebat yang tau maksud tersembunyi lelaki itu. Dan saat itu Rana sama sekali tak termasuk ke dalamnya.
“kau selalu bilang ‘DIA’. Sebenarnya siapa?” tanya Rana, berharap dengan bertanya ia akan mengerti ucapan lelaki itu.

Lelaki itu tersenyum, bukan pada Rana, tapi pada langit, atau mungkin sesuatu yang ada dilangit. Entahlah. Lelaki itu menggerakkan tangannya. Mengacungkan jari telunjukanya ke atas. Karena benar-benar ingin tau maksud lelaki itu, Rana ikut mendongak, mengikuti arah yang lelaki itu tuju. Langit.
“Kata-katamu rancu, aku tak dapat mengerti apa maksudmu?” tanya Rana yang semakin tak mengerti.
Lelaki itu tersenyum simpul. Senyum yang lagi-lagi diarahkan ke langit. Lalu berkata, “Kau akan mengerti, jika kau percaya.” Lelaki itu bangkit dari duduknya, menepuk-nepuk celana jeansnya yang kumal, berharap tindakannya dapat sedikit menghilangkan kesan kumal dicelana itu. Seraya berkata, “Oh ya, rambutmu indah. Dia memberikannya padamu agar kau menjaganya. Jagalah rambut itu dari tatapan-tatapan jahat. Seperti tatapan mataku.” Ujarnya . “Aku harus pergi. Dia akan marah jika aku terlalu lama bersamamu disini.” Ucapnya sambil berbalik badan lalu melangkah pergi. Rana masih terpaku dalam duduknya karena fikirannya masih berkutat dengan sebuah pertanyaan besar,
Apa maksud lelaki itu? Dan kenapa ia bilang tatapan matanya itu jahat? Padahal dia sama sekali tak pernah menatapku ketika berbicara. batin rana.
Pandangannya masih terus menatap punggung lelaki itu yang semakin menjauh, beberapa kali lelaki itu berhenti. Memungut sesuatu yang entah apa, hingga ia pun hilang di balik rimbun pohon.
“Kau telah mempertemukanku kembali dengannya. Terima kasih.” gumam lelaki itu.
***

Rana melangkah menyebrangi jalan yang tak terlalu ramai itu, setiap langkah yang ia lakukan selalu bertambah lebar dan cepat. Dan tanpa ia sadar, ia berlari. Seorang sosok lelaki berpakaian rapi berdiri di atas trotoar. Tangannya melambai-lambai pada sosok gadis manis berseragam SMA yang berlari kearahnya.
“Rana! Kau tak perlu berlari. Lagipula aku takkan kabur kemana pun.” Goda lelaki itu dengan suara lembutnya, ketika gadis manis itu ada dihadapannya. Gadis itu tampak heran dengan gurauan lelaki itu.
“Berlari? Aku sama sekali tak berlari.” Sahutnya. Lelaki itu hanya tersenyum.
“Oh ya. Kemana dua berandal yang selalu mengawalmu?” tanya Rana mengalihkan pembicaraan.
“Entah. Aku sama sekali tak bertemu mereka.” Jawabnya sambil tersenyum simpul.
“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Rana yang dijawab dengan anggukan.
“Kau harus janji, akan menjawab pertanyaanku dengan jelas. Tidak rancu seperi kemarin.” Tambah Rana, lelaki itu kembali mengangguk.
“Emh, apa yang kau pungut setiap kali kau pergi setelah bertemu denganku? Dan kenapa kau tak pernah menatapku ketika berbiacara?”

Lelaki itu tersenyum, “Hanya menyingkirkan sesuatu yang tidak disukai oleh DIA.”
“Bukankah kau sudah janji tidak akan menggunakan bahasa yang rancu?” gerutu Rana. “Ayolah. Jawab dengan menggunakan bahasa yang sederhana.” Pinta gadis itu.
“Sekarang jam berapa?” tanya lelaki itu dengan tampang serius.
“Apa kau sedang berusaha mengalihkan topik pembicaraan?” Rana mendengus kesal sambil melirik jam yang ada ditangannya. “jam 15.21.” jawab Rana, membuat lelaki itu sangat kaget.
“Aku harus segera pergi. Jika tidak pergi sekarang aku akan terlambat.” Pamitnya.
“Tunggu!” entah karena apa Rana tiba-tiba mencegahnya.
“Emh, kau akan pergi kemana? Kau belum menjawab pertanyaanku!”
“Bertemu kekasihku. Aku akan bercinta dengannya menggunakan seni yang sangat indah bukti syukurku pada-Nya karena telah memberikanku berjuta keindahan.” Jawabnya.
“Aku pergi!” serunya pamit seraya melangkah pergi.
Kekasih? siapa? Siapa yang mampu mendapatkan hati lelaki itu. sebegitu hebatnya kah gadis itu hingga lelaki itu merasa diberi berjuta keindahan olehnya. Ah! Tak penting. Pasti lelaki itu sangat mencintainya hingga ia sama sekali tak ingin terlambat sedetik pun. Siapa? Siapa? Siapa? Rana benar-benar penasaran, hingga akhirnya muncullah ide aneh di benaknya.
***

Rana menjalankan ide anehnya, yakni membuntuti lelaki itu. Landasana teori apa hingga ia berani bertindak seperti itu? Rasa penasaran, hanya rasa penasaran. Rana menjaga jarak sejauh 3 meter dari lelaki itu agar tak ketahuan. Setelah cukup jauh berjalan, akhirnya lelaki itu menghentikan langkahnya, ia melepas sandal gunung tua dan masuk ke tempat itu. Rana yakin disanalah mereka akan bertemu, di dalam sebuah,,, masjid?
Hey! Apa mereka sudah gila? Mereka betemu di dalam masjid, sebuah tempat suci pemeluk agama Islam. Tunggu. Hamh, mungkin saja kekasihnya adalah seorang gadis yang sangat alim, dan mereka akan mengaji bersama di dalam sana.
Lima menit Rana menunggu, namun tak ada sosok gadis yang masuk kedalam masjid, hingga adzan ashar berkumandang. Lantunan indah dari suara lembut itu merambat di daun teling Rana, menyelusup kedalam tubuh, membuat sebuah sensasi indah yang entah apa. Suara lembut itu? Rana yakin milik lelaki itu!
Setengah jam setelah kumandang adzan berakhir, sama sekali tak ada tanda-tanda seorang gadis yang mendatangi masjid. Ya ampun! Kenapa Rana sama sekali tak menyadarinya. Bisa saja gadis itu sudah ada didalam sebelum lelaki itu datang bukan? Kenapa ia sama sekali tak menyadari? Dengan menyesal, Rana memutuskan untuk pulang.

Ada seseorang yang memandang punggungnya. “Rana!” orang itu memanggilnya. Rana menoleh ke belakang. Dilihatnya sosok lelaki itu mendekatinya. Rana berdiri kikuk, seperti seorang tersangka yang ketauan melakukan tindak kriminal.
“Kenapa kau ada disini?” tanya lelaki itu lembut seperti biasa.
“Emh, oh yah, lantunan adzan yang indah.” Ucap Rana basa-basi kikuk.
“Terima kasih.” Ucapnya.
“Bagaimana pertemuanmu dengan sang kekasih?”
“seperti biasa. Terasa sangat indah.” Rana terlihat sangat kecewa mendengarnya. “Kenapa kau tak bertemu dengan kekasihmu juga?”
“Hah? Dia, tak ada disini. Lebih tepatnya aku tak punya.” Jawab Rana terbata-bata.
“Heyy! Apa maksudmu? kekasihmu dan kekasihku selalu ada disekitar kita. Dia melihat kita. Ia sangat suka jika kita bercinta dengannya dengan seni yang sangat indah. Dan disaat bercinta itulah dimana kita ada dalam jarak yang sangat dekat.” Ucap lelaki itu menjelaskan.

Rana menatap lelaki itu tak mengerti. Bagi gadis itu, semua kata-kata lelaki itu sangat,, sangat rancu!!
“Hey. Tunggu apa lagi. Dia melangkah 10 kali jika kau mendekatinya 1 langkah. Dia berlari jika kau mendekatinya beberapa langkah.” Ucap lelaki itu, membuat Rana semakin tak mengerti.
“Sebenarnya apa yang harus kulakukan?” Tanya Rana pasrah.
“Masuk ke dalam dan Sholat.”
Mata Rana membulat seketika. Bagaiman mungkin lelaki itu menyuruhnya solat, sementara ia seorang, “Protestan. Agamaku, Protestan.”
***

Rana menyusuri setiap rak buku yang ada di toko buku siang itu. Mencari-cari buku bertemakan sama. Islam. Tujuh buah buku bertema Islami yang ia beli menggunakan uang tabungannya. Seminggu yang lalu lelaki itu mengajaknya sholat tanpa tau jika ia bukanlah seorang muslim. Dan semenjak saat itu ia tak pernah lagi bertemu dengan lelaki itu. Setiap ada waktu senggang ia membaca buku-buku panduaan Islam itu dengan tekun. Mempelajari ilmu-ilmu agama yang bukan agamanya. Gadis itu miskin ilmu agama, ia seorang protestan, tapi tak pernah mempelajarinya. Sering bolos di pelajaran agama protestan membuatnya semakin miskin ilmu agama. Tuhan itu apa? Ia sama sekali tak tau. Yang jelas ia sering menolak ajakan temannya untuk pergi ketika libur dengan alasan “bertemu Allah”
***

Tiga minggu berlalu setelah kejadian itu. Di hari ke dua puluh satu itu Rana membaca halaman terakhir buku berjudul “Syukur” yang merupakan buku ketujuh yang ia beli. Penulis buku itu bernama Fauzan. Lelaki yang merupakan guru ngaji sahabatnya, Mita. Ia tau karena Mita pernah menunjukkan buku yang sama. Buku itu sangat menakjubkan. Setiap katanya begitu indah dibaca, menyerap kedalam hatinya. Dua paragraf akhir yang disampaikan penulis adalah untaian kata terindah yang pernah ia baca.
“Allah sangat suka keindahan. Keindahan ini biasa disebut seni oleh manusia. Bersyukur termasuk seni. Kenapa? Karena ketika kita bersyukur, kita akan merasakan kenikmatan yang sangat indah. Kita dapat mewujudkannya rasa syukur kita dengan cara bercinta dengannya. Allah itu kekasihku, kekasihmu, dan kekasih semua makhluk hidup. Jadi bercintalah dengannya! “
“Cara bercinta dengan Allah yang paling awal adalah, sadar jika Allah selalu melihatmu, ia memperhatikanmu, ia sangat senang bila kau mengingat-Nya, dan ia akan sangat murka jika kau lupa pada-Nya. Kedua, kau sadar jika semua yang kau miliki adalah titipan Allah. Dia mempercayakan semua itu padamu, semata-mata hanya agar seorang muslim bersyukur padanya. Jagalah kepercayaan-Nya. Seni bercinta dengan Allah yang paling indah adalah dengan sholat. Karena ketika sholat, disaat itulah kau berada sangat dekat dengan Allah. Ketahuilah, ketika kau satu langkah mendekati Allah, Allah mendekatimu 10 langkah. Ketika kau mendekati Allah beberapa langkah, Ia mendekatimu dengan berlari. Lalu kerjakan semua hal yang ia perintahkan.”
Rana mematung dalam diam, tanpa sadar bulir air mata mengalir di pipinya. Darahnya mendesir hingga ke ubun-ubun, dadanya bergemuruh bagai ada longsor hebat terjadi disana, hatinya bergetar hebat, menggetarkan seluruh syaraf yang ada di bibir, telinga, mata, tangan dan seluruh tubuhnya. Dari bibir yang bergetar itu terucap sebuah kata yang indah. “Allah.”
***

“Rana apa kau bisa ikut denganku?” tanya Mita ketika sampai dipintu gerbang sekolah.
“Aku harus segera pulang.” tolak Rana dengan halus.
“Sebentar saja. Guru mengajiku ingin sekali bertemu denganmu. Kumohon.” Pinta Mita.
“Guru mengajimu? Aku sama sekali tak kenal dengannya.” Kata Rana heran.
***

Disanalah Rana sekarang bersama Mita menunggu seseorang. Di tepi jalan, tempat biasa ia menunggu angkot. Setelah beberapa kali Mita memohon, ahkirnya Rana menyetujui pertemuan dengan guru ngaji itu, yang juga seorang penulis buku yang berjudul syukur.
“Itu dia!” seru Mita loncat-loncat kegirangan seraya mengarahkan jari telunjuknya ke sebrang jalan. Rana mengikuti arah itu. Didapatinya sosok seorang lelaki yang cukup membuatnya tercengang. Sosok yang biasa ia liat mengenakan celana jeans lusuh dan penampilan kumal, kini mengenakan kemeja putih panjang dipadu dengan celana bahan hitam. Penampilannya, berubah 180⁰. Dia terlihat sangat rapih dan bersih. Lelaki itu melambaikan tangan. Ingin rasanya Rana melangkah kesana, lalu berlari tanpa ia sadari seperti yang ia lakukan tiga minggu lalu. Namun Mita langsung mencegahnya. Mita bilang lelaki itulah yang akan menghampirinya. Akhirnya Rana memutuskan untuk sabar menanti, hingga jalanan ramai itu, sepi kendaraan.
Akhirnya jalan itu sepi setelah penantian selama tiga menit yang terasa setahun. Lelaki itu melangkah membelah jalanan, hingga sampai saat di tengah jalan, ia memandang sesuatu yang tergeletak disana lalu memungutnya. Dari arah barat ada sebuah truk kontainer melaju dengan cepat, jaraknya, semakin dekat dengan lelaki itu.
Di tepi jalan itu, Rana melihatnya. Hatinya tercabik, ingin rasanya ia berlari ketengah jalan itu dan menghempaskan semua yang ada selain lelaki itu. Tapi berapa banyak waktu yang Rana butuhkan untuk menghempaskan yang ada disana? Satu menit? Atau dua menit? Entahlah. Yang jelas truk itu hanya butuh sepersekian detik untuk melindas apa saja yang ada di hadapannya.
***

Seorang wanita berjilbab berdiri di tepi jalan yang sama sewaktu ia menunggu angkot untuk pulang ketika 10 tahun silam. Ia ingat ketika itu ia masih belum mengenakan jilbab. Di tepi jalan itu, ia bertemu dengan lelaki itu. Matanya tak dapat lepas dari sosok itu, meski terhalang angkot yang berhenti dihadapannya. Lelaki itu telah mengubah hidupnya. Lelaki itu yang mengenalkannya pada Tuhan, lelaki itu membuatnya ingin tau apa itu Tuhan. lelaki yang mengajarkannya betapa pentingnya menjaga pemberian Tuhan sebagai rasa syukur seorang hamba. Awalnya lelaki itu mengajarkannya dengan bahasa yang sama sekali tak ia menengerti. Bahasa tingkat tinggi! Yang hanya bisa dicerna oleh segelintir orang.
Di tepi jalan itu juga, ia berpisah dengan lelaki itu.
***

“Hari,, ini aku,, akan menjawab,, pertanyaanmu.” Lelaki itu tergeletak di tengah aspal yang dibanjiri cairan kental berwarna merah. Kemeja putih lelaki itu berubah merah. Bukan karena pewarna, tapi karena darah lelaki itu. Bulir air mata Rana mengalir deras.
“Berhentilah bicara. Sebentar lagi ambulance datang.” Pinta Rana pilu.
Lelaki itu menggerakkan tangannya perlahan, susah payah menahan rasa sakit. Dilihatnya sebuah benda di tangan yang berlumuran darah itu. didapatinya sebuah plastik, lebih tepatnya sampah plastik bekas makanan. “Allah memberikan alam ini,, aku,, harus menjaganya.”
“Aku,, takut jika menatapmu, aku,, akan lupa, jika kekasih sejati,, ku adalah,, Allah.” Hati Rana bagai tersiram air hujan, keinginan hatinya untuk mendengar kata Allah dari bibir lelaki itu terwujud. Tapi dalam keadaan memilukan seperti ini. Pantaskah ia berbahagia? Egoiskah ia?
Air mata Rana semakin tak dapat terbendung.
Lelaki itu bersusah payah mengucapkan “Lailahailaulah.” Hingga akhirnya ia menutup mata menuju alam lain. Meski matanya tertutup, lubuk hatinya masih bersua, “Terima kasih Allah. Kau memberiku napas hingga aku mememenuhi janjiku. Terima kasih karena kau memberikanku limpahan nikmat yang tiada tara selama hidupku.”
***

Wanita berjilbab itu menitikkan air mata mengingatnya. “Rana.” Panggil lelaki yang mengenakan kemeja putih yang sedang bergandengan tangan dengan anak kecil berumur lima tahun. Lelaki itu adalah Dimas, suami Rana. Dan anak kecil itu adalah Fauzan, anaknya. Dilihatnya Fauzan memungut sesuatu yang ada di pinggir jalan, lalu memasukkannya kedalam tong sampah yang ada disana.

Rana tersenyum melihat tingkah jagoannya. Begitu mirip dengan seseorang. Seseorang yang memberi tahunya, bahwa Tuhan telah memberikan berjuta nikmat untuknya. Termasuk udara yang ia hirup setiap harinya. Itu hanya satu dari jutaan debu kenikmatan yang Ia berikan. Kenikmatan yang terasa paling indah adalah ketika pertemuan dan perpisahan di tepi jalan ini. “Terima kasih Allah. Karena kau telah mempertemukanku dengan Fauzan, lelaki itu.” Rana melangkah beriringan dengan keluarga kecilnya, menuju masjid tempat paling suci dalam agamanya. Islam. sebuah nikmat yang takkan terbalas dengan berjuta rasa syukur. Nikmat Islam.

PROFIL PENULIS
Nama saya Maria Ulfa. seorang pelajar biasa yang suka membuat gambar tak jelas, dan tulisan yang sama tak jelasnya. sekarang masih duduk anteng di bangku kelas XI, SMA KORNITA IPB BOGOR.
 No. Urut : 33
Tanggal Kirim : 25/11/2012 10:19:16

cerpen

SELAMAT TINGGAL UNTUK SELAMANYA
Karya Monica Sucianto

“Gisell………”teriak Kevin dari depan rumahku. “Kenapa?”tanyaku. “Ayo ikut aku ke taman”kata Kevin sambil menarikku. “ada apa?”tanyaku. “Sell….. kita kan udah lama temenan, aku gak bisa pisah sama kamu. Kamu mau gak jadi pacarku”kata Kevin. “Gak bias Kev, aku tau mama kamu gak setuju kalo kita pacaran kamu kan orang kaya, orang tua kamu pengusaha sedangkan aku gak punya orang tua”jawabku panjang lebar. “ya udah aku gak maksa, tapi kamu maukan jadi lebih dari temanku”ucap Kevin. “iyaaaa”kataku singkat
Aslinya aku sayang sama Kevin tapi kalo mamanya Kevin tau kalo aku pacaran sama anak nya pasti mama nya gak setuju. Aku memang satu kampus bahkan satu kelas hampir sebangku lagi.

Gak berhenti Kevin nembak aku sekali. Dia selalu nembak aku dengan kata kata gombalnya, tapi selalu aku tolak dari pada aku berurusan sama mamanya.
“Sell…..pls ngertiin aku donk, dunia ini gak ada apa apa nya kalo gak ada kamu di sisiku”ucap Kevin. “Aku tau kamu sayang aku, tapi setulus tulusnya kamu sayang aku, aku tetap gak bias nerima kamu, lebih baik kamu nurut aja sama kata kata mama kamu. Jangan dekatin aku lagi”ucapku panjang lebar. Aku langsung meninggalkan Kevin tanpa menoleh kearah nya sekalipun. Setelah kejadian itu Kevin selalu nelpon aku tapi selalu gak aku angkat.
Dikampus aku selalu ngejauhin Kevin, walau Kevin selalu deketin aku tapi aku tetap ngejauhin Kevin. “Aku tetap sayang kamu kok, Cuma aku gak mau mama kamu marah marah sama kamu buat ngejauhin aku”kataku dalam hati.
Tiba tiba ada sms dari Kevin yang tertulis……
Maaf ya sell aku udah bikin kamu marah. Kalo kamu udah gak mau ketemu aku lagi, aku gak marah kok.
Belum sempat aku memjawab tiba tiba Kevin mengirim sms lagi yang tertulis……..
Aku Cuma mengharapkan kamu mau ketemu aku sekali aja. Aku Cuma mengharapkan itu dari mu. Aku harap kamu mau datang ke taman besok siang.

Besok siang nya aku datang ke taman tapi disana tidak ada Kevin. “Apa mungkin Kevin membohongiku?”Tanya ku dalam hati. Tiba tiba muncul seseorang laki laki dihadapan ku sambil membewa bunga mawar. “Sell pls terima aku kaliini aja, kita akan pacaran di belakang ortuku, pls terima ya bunga mawar ini?”Ucap Kevin sambil menjulurkan bunga Mawar ke hadapanku. “iyaaaaa”kataku sambil perlahan lahan mengambil bunga mawar ditanagan Kevin.

Keesokan harinya……. . “Gisell…… kamu itu bias ngerti nggak? Kamu itu miskin, gak punya orang tua. Kamu juga gak sepintar Kevin. Jadi kamu itu gak pantes buat Kevin. Mulai saat ini kamu jauhin anak saya.”kata mama nya Kevin sambil marah marah didepan rumahku. “Udah Sell…. Kata mamanya Kevin benar. Kamu memang gak punya orang tua. Tapi jangan dimasukan ke hati ya.”Ucap nenek untuk menenangkanku. “iyaaaaaaa”kataku dengan mata yang berair air.
“Kevin….. kenapa kamu kasitau mama kamu kalo kita pacaran. Kan kamu tau mama kamu gak setuju kalo kita pacaan.”ucapku marah. “nggak kok …. Aku gak kasi tau” kata Kevin. “Ach… kamu boong, kalo gak kamu kasitau darimana mama kamu tau? Aku benci kamu kamu hanya namba masalah buat hidup aku”kata ku sambil meninggalkan Kevin. Kaliini aku bener bener marah sama Kevin. Diakan udah janji kalo kita akan pacaran di belakang mamanya. Aku benci kamu Kevin. Tba tiba ada sms dari Kevin yang tertulis…………..
Sorry ya sekarang aku tau , ternyata mamaku udah hina hina kamu kan? Bener aku gak ngasitau mamaku aku gak tau mamaku tau dari mana
Belum selesai aku membaca tiba tiba Kevin meng sms aku lagi yang tertulis……………

Ya udah kalo kaliini kamu bener bener marah sama aku dan gak mau maafin aku aku gak papa kok. Aku Cuma pengen kamu bahagia. Jika kamu akan bahagia jika aku gak ada di hidup mu, aku akan pergi dari hidupmu. Dan aku hanya mau bialang, aku sayang kamu “I LOVE YOU”
“Kev aku gak mau kamu pergi dari hidupku aku gak bias hidup tanpa mu. Aku Cuma gak mau mamamu marah marah karena aku” kataku dalam hati. Tiba tiba ada sms lagi dari Kevin. Yang tertulis………

Gisell aku minta maaf ya kalo aku udah ngeganggu hidup kamu. Aku akan pergi dari hidupmu. Aku akan kuliah ke luar negri. Dan bentar lagi aku akan berangkat ke Malaisya. Sekarang aku ada di bandara mengharapkan kamu mau datang agar aku bias memeluk mu untuk yang terakhir kalinya.

Selesai aku membaca Sms dari Kevin aku langsung menuju bandara. “Aku gak nyaka Kevin mau pergi tanpa ngabarin aku jauh jauh hari.” Ucapku dalam hati. Di bandara aku mencari Kevin. Tapi susah mencari satu orang dari ribuan orang. Beberapa saat setelah aku mencari aku melihat Kevin sedang duduk sambil menangis. “Kevin….” Panggilku sambil mendekatinya. “Gisell…aku gak nyaka kamu mau datang ke sini”ucap Kevin sambil mengusap air mata. “Kevin kenapa kamu pergi aku sayang kamu walau mama kamu gak setuju aku tetap sayang kamu”ucapku. “Mamaku gak setuju sama hubungan kita. Karna itu mamaku nyuruh aku kuliah di luar nergi. Walau kita akan berpisah jauh kamu jangan ngelupain aku ya. Yang penting kamu bias bahagia tanpa aku di sisimu”kata Kevin panjang lebar. “Mana mungkin aku bahagia tanpamu di sisiku. Dan yang aku sayang Cuma kamu dan hanya kamu yang ada di hatiku”ucapku sambil mulai meneteskan air mata. “Sorry ya Sell aku harus pergi sekarang” kata Kevin sambil perlahan lahan menjauhiku. “Kevin…… aku sayang kamu aku gak bakal ngelupain kamu”terakku sambil menangis. Kevin hanya tersenyum menahan tangis ke arahku.

Beberapa hari setelah Kevin tidak ada di sisiku, tiba tiba Viola menelponku. “Gisell, Gisell… pesawat yang di naiki Kevin mengalami tabrakan, dan baru aja Kevin sampai di rumah sakit dengan ambulance. Sekarang kamu kerumah sakit ya”ucap Viola. Selesai mendengar nya detik itu juga aku langsung menuju rumah sakit.

Di rumah sakit sudah ada Viola dan keluarga Kevin. Di UGD aku melihat Kevin. “Kevin….” Panggil ku. “Gii…sssse…lllll” jawab Kevin terbata bata. “Aku minta maaf Kevi aku udah marah marah sama kamu. Aku sayang kamu. Aku gakbisa hidup tanpamu. Aku gak mau kamu pergi untuk selama lamanya dari hidupku I LOVE YOU” ucapku. “Aku juga sayang kamu Sell…… tapi ini memang takdirku. Namun aku tetap bersyukur bias ngeliat kamu untuk yang terakhir kalinya. Aku berharap kamu tetap akan bahagia tanpa ada aku di sis mu.”kata Kevin terbata bata. “Aku akan tetap sayang sama kamu dan aku akan jagain kamu terus di sini sampai kamu sembuh”ucapku sambil meneteskan air mata yang terus menerus bercucuran. “udah Sell gak perlu kamu berharap aku sembuh. Aku gakbakan sembuh dan aku akan pergi untuk selamanya”kata Kevin sambil terus memegang tanganku. “gak boleh ngomong gitu donk Kev kamu bakal sembuh kok” dukungku. “Udah relain aja aku biar nanti aku bias tenang di sana”kata Kevin sambil perlahan lahan mulai menutup mata nya untuk selamanya. “Kevin…… jangan tinggalin aku Kev”teriakku di depan Kevin yang sudah terbujur kaku.

***TAMAT***

cerpen

MAAFKAN AKU IBU
Karya Cristania

Di masa remaja, mereka masih bisa meluangkan waktu mereka untuk bermain, tertawa bahagia bersama teman-teman seusia mereka, pergi belanja ke mall dan memilih baju-baju sesuka mereka. Tapi tidak dengan Keyra, dia gadis yang bisa dibilang sangatlah hebat, di masa remajanya Keyra menghabiskan waktu bukan dengan pergi bersama teman-temannya bahkan Keyra bisa bersekolah pun itu sudah sangat disyukuri Keyra. Keyra adalah seorang gadis pekerja keras dengan menjual kue buatan ibunya, Keyra melakukan ini hanya untuk ibunya, ibu yang Keyra sangat sayangi dan cintai. Keyra hidup hanya bersama ibunya, ayah Keyra meninggal saat Keyra masih berumur 3 tahun. Dulu Ibu Keyra bekerja keras untuk menghidupi dirinya dan Keyra, kini saat Keyra sudah remaja Keyra ingin membalas kebaikan ibunya dengan cara Keyra berjualan kue di tempat Sekolahnya. Dilecehkan teman-teman itu pasti dan yang paling menyakitkan Prisil siswi yang selalu merendahkan Keyra.
“Nak, apa kamu tidak malu kalau kamu harus berjualan di Sekolah?” tanya Ibu Keyra dengan wajah yang mengambarkan kekhawatirnya pada anaknya.
“Ibuuu... Key nggak pernah malu atau menyesal dengan apa yang key lakukan ini. Apa yang perlu Key sesali, Bu? Keyra bangga punya ibu seperti ibu” Keyra memeluk ibunya seakan ini adalah pelukan terakhirnya pada ibu yang amat sangat Keyra sayangi.
“Ke.. keyraaaa..” Ibu Keyra meneteskan air mata saat Ibunya mendengar kata yang terucap dari bibir anaknya itu dan pelukan sang ibu pun lebih erat dari Keyra.
“Ibu mau janji sesuatu sama Key?” Keyra melepaskan pelukan sang ibu dengan lembut dan menatap ibunya dengan air mata yang tertahan hendak turun di matanyanya.
“Janji untuk apa, Nak?
“Ibu harus janji sama Key kalau ibu nggak akan pernah menanyakan hal itu lagi ke Keyra dan ibu selalu menyayangi Keyra dengan sepenuh hati ibu. Keyra pun janji sama ibu,Key nggak akan meminta kepada orang lain walaupun sesulit apapun masalah yang kita hadapi, Key akan kerja keras, Bu.”

Air mata yang tadi hendak turun, kini turun dengan ikhlasnya dan mewakili keinginan Keyra didalam hatinya. Seakan tidak ada celah, air mata itu turun dengan deras dan turun di pipi lembut Keyra. Ibu melihat kejujuran hati sang anak dan melihat air mata yang kini turun dimata Keyra merasa bahwa Ibu Keyra adalah seseorang yang sangat beruntung memiliki anak sebaik Keyra. Sang ibu memeluk kembali tubuh Keyra dengan penuh kasih sayang seorang ibu. Rasa nyaman dan tenang menyeluruh didalam tubuh Keyra. Hanya ada rasa hening didalam rumah yang sederhana itu, Keyra membuka keheningan dengan keceriaan Keyra yang selalu Keyra tunjukan kepada ibunya saat ibunya sedih.
“Hmm...Buu! Besok buat kuenya agak banyak yaa. Key, mau nitip dikantin sekolah. Key udah minta izin ke Kepala Sekolah dan membolehkan Keyra untuk berjualan” Keyra dengan antusias memberikan kabar bahagia ini.
“Baiklah Key. Asal itu tidak menganggu pelajaran kamu di sekolah. Ibu tidak ingin hal itu terjadi, karena tidak mudah untuk masuk sekolah sebagus itu dan itu karena kerja keras kamu Key” Ibu menasihati Keyra dengan kata-kata keibuannya.
“Okkeee buu.. Key janji!” Kayra mencium pipi Ibunya dengan rasa bahagia.

Keesokan harinya, Keyra pergi ke Sekolah dengan membawa banyak kue yang akan dititipinya di Kantin nanti. Jam masih menunjukan pukul setengah tujuh pagi dan sekolahan pun masih seperti biasa, belum ada siapapun kecuali Satpam Sekolah dan Pengurus Sekolah. Keyra terkejut saat dia melihat Prisil sudah ada di Gerbang Sekolah seperti menunggu seseorang. Siapa yang sedang ditunggu Prisil?
“Selamat pagi Pris. Kamu lagi nunggu seseorang ya?” tanya Keyra dengan ramah dan menghamiri Prisil dengan senyuman yang manis di bibirnya.
“Ehhh.. ada cewek kampung! Ngapain lo nyamperin gue? Mau cari masalah lo? Jangan harap dengan muka polos lo itu gue bisa baik sama lo! Jijik gue!” Prisil mendorong Keyra sampai dia terjatuh ke tanah dan kue-kue yang akan dijualnya pun ikut terjatuh dan kotor.
“Ups! Sorry, kue-kue lo yg sampah itu jatoh dehh. Sorry ya cewek kampung!” Prisi pergi meninggalkan Keyra yang masih terjatuh di tanah dan melihat kuenya terinjak Prisi, Keyra pun terkejut dan nangis.
“Aduhh! Yang itu sengaja! Hahahaaa”
Melihat ulah Prisi, Keyra ingin berteriak dan marah, tapi apa yang bisa Keyra lakukan. Jika dia melawan Prisi, dia bisa dikeluarkan dari sekolah. Prisi adalah anak dari pemilik sekolah itu. Keyra bisa masuk sekolah swasta termahal karena Keyra mendapat beasiswa. Yang bisa Keyra lakukan hanyalah bersabar dengan perlakuan Prisi terhadapnya.

Sepulang sekolah Keyra hanya menundukan kepala dan Keyra seakan menahan air mata yang ingin jatuh. Keyra tidak ingin Ibunya tahu apa yang sudah Keyra alami tadi pagi. Tapi, Keyra tidak membawa uang sepeserpun dari hasil penjualan kuenya di Sekolah karena memang tidak ada yang bisa Keyra jual.
“Ass..alamualaikuu..mm ibuu. Keyra pulang bu.” Salam Keyra tidak ada yang menjawab. Ibu kemana? Keyra bingung dan panik.
“Ibuuu.. Ibu dimanaa? Keyra pulang, Bu. Apa ibu sedang masak? Ibuu!” Sama sekali tidak ada jawaban. Keyra pergi ke dapur, mungkin ibunya sedang memasak jadi tidak dengar. Saat Keyra ke Dapur, tidak ada siapapun disana. Keyra semakin panik. Keyra menuju kamar ibunya, Keyra berharap didalam ada ibunya. Terkejutlah Keyra dengan apa yang dia lihat saat itu. Seorang ibu yang sangat dia sayangi tergeletak tak berdaya di bawah kasur yang usang dan lapuk.
“Ibuuuuuu!! Buuu,, bangun ibuu!! Ibu kenapa buuu? Bangun bu! Tolongg!! Tolong!!” Keyra berteriak semampunya agar siapapun yang diluar rumah bisa mendengar Keyra dan membantunya untuk membawa ibu ke Rumah Sakit. Untunglah ada beberapa tetangga yang mendengar teriakan Keyra.
“Ada apa neengg??!” Beberapa tetangga memasuki kamar Ibu Keyra dengan kaget dan panik.
“Bu, tolong saya! Ibu saya pingsan. Tolong bantu bawa ke Rumah Sakit”
“Oh,, i..iiyaa neng”

Langsung para tetangga membantu Keyra membawa ibunya. Sesampainya di Rumah Sakit, Ibunya diperiksa oleh dokter. Wajah Keyra kini pucat tercampur panik. Keyra hanya bedo’a kepada Tuhan agar ibunya baik-baik saja. Tapi takdir berkata lain.
“Keluarga pasien?”
“Iya dok, saya anaknya. Ibu saya ke..kenapa ya dok? Baik-baik aja kan dokter?” Keyra berharap Dokter menjawab “iya”.
“Mbak, saya sudah memeriksa ibu Mbak. Saya juga berharap seperti itu, tetapi takdir berkata lain. Ibu Mbak terkena penyakit Kanker Paru-paru tingkat lanjut, dan segera harus dioperasi. Saya mohon demi keselamatan nyawa Ibu Mbak, malam ini juga Mbak sudah harus membayar administrasi untuk operasi. Permisi.”

Dokter berlalu melewati Keyra yang hanya berdiri mematung karena terkejut. Entah apa yang Keyra pikirkan, dia langsung berlari keluar Rumah Sakit dan Keyra pergi menuju Rumah Prisi. Tok..tok..tok.. Pintu rumah Prisil diketuk Keyra dengan keras. Terkejutlah Keyra yang ternyata keluar adalah ayahnya Prisi dan ayah Prisi mempersilahkan Keyra masuk, tetapi Keyra menolaknya.
“Maaf, Pak! Saya kesini bukan bertamu. Saya kesini ingin bertemu Prisi!” Suara Keyra keras seakan ingin menantang seekor macan.
“Ada urusan apa ya, Nak?” tanya ayahnya Pisi masih ramah.
“Maaf pak saya bukannya lancang. Ibu saya masuk Rumah Sakit dan terkena penyakit...Kanker paru-paru tinggkat lanjut. Saya ini seorang murid sekolah yang bapak miliki dan saya menjual kue disana hanya untuk mendapat uang!” Keyra sangat sakit mengatakan itu. “Saya dan ibu saya hidup dari hasil penjualan kue itu saja. Sekarang penghasilan untuk hidup kami hilang bahkan saya tidak tahu apa saya harus...menjual diri saya agar ibu saya bisa dioperasi?!” Hati Keyra seperti disayat-sayat mengatak itu, air mata itu turun lagi di pipi halus Keyra.
“Yatuhan... Apa Pihak Sekolah melarang kamu untuk berjualan kue? Saya sama sekali tidak pernah...” Keyra tidak bermaksud memtong pembicaraan ayah Prisil.
“Bukan Pihak Sekolah yang melarang saya untuk berjualan, Pak! Tapi Prisi! Anak bapak! Dia selalu menginjak-injak harga diri saya, saat saya berjualan di kantin sekolah, Prisil membuang dan menginjak begitu saja kue yang saya jual!!”
“Ya tuhan.. Priiiissssiiiii!!!!!!! Keluar kamu!!” Kemarahan Ayah Prisi semakin menjadi saat tau perilaku anaknya di sekolah. Prisi pun keluar dari kamar dan menghampiri ayahnya. Terkejutlah Prisi melihat Keyra ada di depan pintu bersama ayahnya, yang membuat Prisi bingung saat dia melihat wajah Keyra dengan penuh kebencian.
“Kamu itu benar-benar keterlaluan Prisi! Kamu melarang teman kamu untuk berjualan?! Apa kamu tahu, dia ini hidup hanya bergatung pada penjualan kuenya! Dan kamu malah merusak kehidupannya, Prisi! Ayah kecewa sama kamu!!” Mendengar perkataan ayah, Prisil menangis dan memeluk ayahnya.
“Ayah.. Maafkan Prisi. Iya, Prisi memang salah. Maafkan Prisi pah. Key, gue minta maaf atas apa yang pernah gue lakuin sama lo. Gue bener-bener minta maaf Key.” Prisi menatap Keyra dengan penuh harap.
“Untuk kata maaf gue bisa maafin lo Pris. Tapi, apa kata maaf bisa menyembuhkan ibu gue yang sekarang lagi butuh bantuan secara materi?! Engga Pris!” Keyra menatap Prisi dengan penuh amarah dan kesedihan.
“Baik, Nak. Untuk membayar semua yang pernah Prisi lakukan ke kamu. Saya akan membayar semua keperluan untuk hidup kamu dan ibu kamu. Bagaimana? Apakah itu adil?” Ayah Prisil mengambil jalan tengah untuk masalah ini.
“Baik lah. Akan saya terima. Terima Kasih, Pak, Pris! Saya permisi.”
Keyra meninggalkan Prisil dan Ayahnya. Keyra menangis di setiap langkahnya entah karena dia bahagia bisa mendengar ibunya akan segera disembuhkan atau dia sedih karena dia membuat kesalahan. “Ibuu, key minta maaf. Key, sudah melanggar janji Keyra ke ibu, tapi ini demi ibu. Mungkin apa yang Key lakukan sama saja Key menjual diri Key sendiri. Tapi ini demi ibu..biar Keyra yang menanggung dosa ini. Maafkan Keyra Ibuuu..”

PROFIL PENULIS
Nama : Cristania (Jakarta, 08 juni 1998)
Alamat : Karawang Barat, Jawa Barat
Alamat twitter : twitter.com/Taniaasami
Alamat fb : facebook.com/cristaniataniania

cerpen

KETIKA KASIH SYANG MULAI RENGGANG
Karya Anggi Dwi Sulistyani

Burung-burung segera bertebangan di angkasa. Hal itu menandakan bahwa hujan mulai datang sore ini. Namun, aku tak menghiraukan hal itu. Aku masih saja duduk di taman dengan pakaian seragam yang mungkin tak serapi tadi pagi. Rasa sedih sering kali datang di dalam hatiku.

Teringat akan semua kenangan manis antara aku dengannya. Namun, semua telah berlalu. Kini dia telah pergi jauh dari kehidupanku. Dan kini yang tersisa hanya bayang-bayangnya yang selalu tersimpan di lubuk hatiku.

Gerimispun datang, namun, aku tak menghiraukan hal itu. Aku masih saja duduk di taman. Hingga akhirnya hujan begitu deras datang. Sebenarnya enggan aku untuk pergi dari tempatku duduk semula. Namun, jika aku tak segera pergi dan pulang, pasti nanti ayah dan bundaku akan mengomeliku habis-habisan.
 
Ketika Kasih Sayang Mulai Renggang
Setelah tiba di rumah tak ku lihat mobil ayah dan bundaku terparkir di depan rumah. Sudah ku duga ayah dan bunda pasti masih sibuk dengan urusan mereka. Ayah dan bundaku memang selalu mencukupi kebutuhan materiku namun, mereka tak pernah tau bahwa aku selalu kekurangan kasih sayang. Tetapi, sudahlah, munkin ini semua sudah jalanku.
“Non, kenapa baru pulang ?” tanya Bi Inem khawatir.
“Iya, bi tadi mampir ke taman. Ayah bunda ke mana bi ?”
“Mereka ada urusan di kantor non, ayo masuk dulu”
Sudah ku duga ayah dan bunda selalu sibuk dengan urusan pekerjaan mereka. Aku memang mengerti bahwa mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan materiku namun, tidak dengan kebutuhan batinku. Aku selalu merasa iri dengan teman-temanku yang lain. Mereka selalu mendapat kasih sayang yang cukup dari orang tua mereka. Tak seperti aku yang kekurangan kasih sayang.
Segera aku mandi dan masuk ke dalam kamarku yang luas. Apa guna punya rumah yang besar, rumah yang luas, rumah yang mewah jika hanya dua orang ang selalu berada di rumah. Yaitu, aku dan Bi Inem.

Mungkin aku bukan anak ayah dan bunda tapi, anak bi Inem karena hanya bi Inem yang selalu memberi perhatian untukku. Ayah dan bundaku hanya mementingkan pekerjaan. Dan mungkin bagi mereka aku hanya orang yang tidak penting bagi kehidupan mereka.
Tak jarang aku selalu meneteskan air mata saat aku teringat akan ayah bunda yang selalu mengutamakan pekerjaannya. Namun, selalu ku coba untuk bersabardan terus bersabar.

Pukul sembilan tepat seusai aku belajar segera aku turun dan menghidupkan tv di temani oleh bi Inem. Namun, sudah 15 menit aku melihat tv ayah dan bunda belum juga pulang. Padahal ada yang ingin aku beri tahukan kepada mereka tentang undangan dari sekolah. Hingga pukul 21.30 mobil ayah dan bunda datang secara bersamaan. Namun, hal itu tak membuat aku senang, karena rasa kecewa sudah datang menghampiriku.
“yah, bun ini ada undangan dari sekolah”
“wah, jam berapa ini besok bunda ada meeting sama klayen”
“sama ayah juga ada meeting”
“ya, udah pentingin aja kerjaan daripada aku dan engga usah datang sekalian”
Setelah mengucap kalimat itu tak terasa air mataku menetes aku segera naik dan membanting pintu kamar brrraakkk. Aku sedih aku kecewaa ayah dan bunda selalu mengutamakan pekerjaan mereka. Mereka tak pernah menganggap aku hadir di kehidupan mereka. Aku hanya bagaikan sampah yang tak berarti.
***

Pagi ini entah kenapa aku sangat malas datang ke sekolah. Mungkin karena kejadian tadi malam. Namun, mau tak mau aku harus segera mandi dan berangkat ke sekolah. Setelah siap aku segera turun dan menuju meja makan. Di sana telah tersedia banyak makanan. Namun, selera makanku tak lagi ada. Aku hanya minum susu dan segera berangkat ke sekolah. Mobil ayah dan bunda sudah tidak ada mereka memang pagi-pagi sekali sudah pergi.

Harap-harap cemas mengisi hatiku siang ini, aku takut apabila ayah dan bunda memang benar-benar tidak datang. Namun, sampai acara dimulai tak ku lihat ayah ataupun bunda. Hingga acara selesai ayah bunda juga tak datang. Hatiku rasanya hancur tak karuan, rasa sedih, rasa kecewa, rasa benci bergelayut dalam hatiku. Kenapa ayah dan bunda seperti ini kepadaku apa merka malu dengan keadaanku atau karena mereka tidak sayang kepadaku.
Setelah pulang sekolah aku tak langsung pulang ke rumah tapi, aku pergi ke taman ku lepaskan semua kepenatanku hari ini. Semua kekecewaanku ku tuliskan ke dalam selembar kertas dan segera aku bakar. Aku benar-benar benci hari ini.

Hingga malam hari pukul 19.00 aku baru sampai di rumah. Terlihat olehku mobil ayah dan bunda sudah ada di sana.
“sayang kamu dari mana saja ?”
“tumben bunda peduli sama aku biasa cuma peduli pekerjaan bunda dan klayen-klyen bunda”
“sayang kenapa kamu jadi kayak gini”
“harusnya ayah bunda itu sadar kenapa aku jadi kayak gini. Siapa yang bikin aku begini ayah sama bunda kan. Ayah bunda engga pernah tau rasanya jadi aku tuh kayak gimana. Dan sekarang aku tanya kenapa ayah sama bunda engga datang ke sekolahku. Ayah dan bunda selalu sibuk sama urusan ayah bunda engga ada waktu buat Bintang. Bintang sadar bahwa Bintang Cuma sampah di keluar ini”
Air mataku bercucuran entah kenapa aku berani mengucapkan kalimat seperti itu kepada orang tuaku. Rasa kecewa yang selama ini aku tahan akhirnya tak kuat aku membendungnya dan pada malam itu ku luapkan semua yang tersimpan di hatiku.

Segera aku masuk ke dalam kamar. Dan segera ku buka jendela kamarku tak kuhiraukan hawa dingin di luar. Semua yang aku impikan hancur sudah. Aku muak dengan janji-janji ayah dan bunda.

Tok..tookk... terdengar ketukan pintu kamarku. Ternyata dia adalah bunda.
“sayang buka pintunya ya, bunda mau minta maaf”
“Engga aku benci bunda aku benci ayah aku benci kalian semua. Kalian nggak pernah bener-bener sayang sama Bintang. Selama ini yang sayang sama Bintang Cuma Bi Inem”
“ayah sama bunda serja banting tulang Cuma buat Bintang”
“Engga itu bukan buat Bintang. Itu Cuma buat ayah sama bunda”
Segera aku tidur karena aku tak mau terus menangis. Aku tak ingin dianggap lemah oleh banyak orang. Aku harus tegar.
***

Pagi-pagi aku sudah siap dan segera turun. Terlihat olehku ayah dan bunda belum berangkat kerja. Namun, aku tak menghiraukan hal itu. Seperti biasanya aku hanya minum susu dan kemudian pergi ke sekolah. Mungkin bunda bingung melihat tingkah lakuku, bundapun bertanya kepada bi Inem.
“Bi, kok Bintang tadi cuma minum susu ?”
“Emang biasanya cuma kayak begitu bu, non Bintang cuma minum susu kalau berangkat ke sekolah”
Entah kenapa hari ini mood aku hilang. Aku ingin segera pergi dari sekolah dan menuju ke taman. Di sana tempat yang paling bisa mengerti aku. Di sana banyak hal yang tersimpan. Di sana tempat yang biasanya aku pakai untuk menghilangkan kepenatan.
Bel tanda pulangpun berbunyi namun, sayang hari ini langit begitu mendung hujan pun beberapa saat kemudian mulai datang. Tetapi, langsung ku terobos hujan itu, tak peduli aku akan bajuku yang basah.
Aku sungguh kecewa pada orang tuaku. Kenapa mereka tega kepadaku. Mereka yang sangat aku sayang. Tapi, mereka tak pernah peduli denganku. Sungguh hati ini ingin berteriak sekencang-kencang. Namun, aku harus bisa tegar menghadapi semua ini.

Terlihat olehku mobil ayah terparkir di depan pintu taman. Ayah dan bundapun kemudian keluar dan menghampiriku. Mungkin mereka khawatir padaku atau mungkin hanya ingin menyenangkan hatiku. Entahlah aku tak tahu.
“Sayang kamu ngapain di sini ?”
“Gak, Bintang nggak ngapa-ngapain di sini. Bintang cuma mau cari suasana baru”
“Yaudah sayang ayo pulang. Ayah sama bunda minta maaf sama kamu. Ayah bunda sadar bahwa kami kurang memberikan kasih sayng sama kamu.”
“Kenapa yah, bun, kenapa baru sadar sekarang ?, ayah bunda engga tau betapa kesepiannya Bintang !”
“Iya maafin bunda sama ayah sayang”
Setelah mengucap kata-kata seperti akupun mau di ajak pulang oleh Ayah dan bunda. Dan kini aku mulai sedikit demi sedikit mendapatkan kasih sayang yang dulu hilang.

Tamat
 
PROFIL PENULIS
Nama : Anggi Dwi Sulistyani
Facebook : Anggi Dwi Sulistyani 
No. Urut : 276
Tanggal Kirim : 26/12/2012 19:41:14

cerpen

CINTA AYAH YANG ABADI
Karya Dwi Ks

Pagi ini adalah pagi yg cerah untuk memulai semua kisah hidup perjalanan anak manusia yang selalu dihiasi oleh cita cita setinggi langit. Aku begitu tergesa-gesa pagi itu. Jam dinding menunjukkan jam 8 pagi. “waduh …mampus aku…telat deh…!” kuraih handbag di atas meja kerjaku dan segera bergegas keluar rumah dengan nafas tersengal-sengal…” Mas….sarapannya dimakan !”, Teriak istriku dari dalam kamar, namun waktu ternyata lebih cepat mengejar aku dan tidak memberikan kesempatan bagiku untuk menikmati sepotong roti nikmat dan segelas kopi panas buatan istriku tercinta. Aku adalah seorang wartawan disalah satu koran. Walaupun dengan gaji yang teramat sangat kecil aku bahagia….karena itu adalah pilihan hidupku. Tersenyum Wati, istriku dari pintu depan rumahku yg bertipe RSSSS itu. “Hati-hati pa….”, suaranya diiringi lambaian tangan kanannya padaku dan tangan kirinya memegang pinggangnya dari belakang….ya…dia adalah Wati, istriku yang sedang hamil 9 bulan. Kehamilannya itu amat sangat kami nantikan… selama hampir 3 tahun pernikahan kami. Sudah hampir 2 bulan ini dia cuti kerja dari kantor ayahnya. Wati, Istriku, memang istri yang luar biasa… Ia selalu memberikan cinta yang tak biasa seperti wanita lain, yang hanya mengharapkan kehidupan mapan dan kemewahan semata, tapi itu wajar bagi semua orang , siapa sih yang ngga mau hidup senang ? Dia menolak menerima tunjangan hidup dari ayahnya secara cuma-cuma dan lebih memilih bekerja di kantor ayahnya itu.

Kuengkol sepeda motor bututku, Hmm…sepeda motor kesayanganku. Kudapatkan dari hadiah Pak Menteri Penerangan, atas karya tulisku tentang pembangunan negeri ini, yg sebenarnya tulisan itu tak sesuai dengan pandangan mata dan hatiku, namun logikaku menyeret aku untuk berdusta lewat karya kata-kata demi sebuah cita - cita …Ya, cita-cita pikirku. Berlahan namun pasti kususuri gang demi gang menuju kantorku. “SUARA NEGERIKU” papan nama kantorku terpampang jelas dan besar, seperti hasrat yg terpendam dari cita-cita anak negeri ini. Kusandarkan sepeda motorku dan dengan lincah kunaiki tangga demi tangga menuju lantai dua. “Apa cerita untuk besok, Wan..” suara itu datang dari belakangku menyadarkan lamunanku yg sedang meniti tangga demi tangga. ” Belum dapat ide , Mas…”, Jawabku spontan. ” Yang menarik ya….. seperti kemaren…. temenku banyak menanyakan tulisanmu…mudah-mudahan….kita akan lebih maju lagi tahun ini..”, pesan redakturku yg juga sahabatku sambil meninggalkanku yg hanya mengangguk setuju. Kuambil pena dilaci meja dan mulai menulis paragraph demi paragraph. Tenggelam aku dalam alam pikiranku. Kata demi kata terangkai dalam kalimat yang menggugah hati dan tanpa kusadari air mataku menitik saat tulisan itu hampir rampung…tak tahan…. kuhentikan dan segera kumasukkan kertas tulisan itu kelaci mejaku. 

Kulipat tangan dibelakang kepalaku dan membiarkan pikiranku melayang mengenang peristiwa setahun lalu…. Waktu itu hujan sangat lebat. Jas hujanku seakan tak kuasa menahan derasnya hujan dimalam yang gelap itu. “Mati aku …Hujannya deras banget…!” teriakku tertahan seakan meyakinkan aku bahwa aku tidak sedang bermimpi. Mendadak tanganku mengerem dengan kuatnya, “ciiieet…” bunyi ban sepeda motorku bergesek dengan aspal. 

Sesosok bocah kedinginan merapatkan badannya disalah satu ruko dijalan besar itu. kedua tangannya mengikat badannya erat dan menggigil kedinginan. Kuhentikan sepeda motorku dan kudekati ia…” Tinggal dimana, Dik ?”, tanyaku dengan suara keras untuk mengalahkan suara deras hujan yg tak kenal kompromi. Tubuh mungilnya seakan memberi jawaban dibanding mulutnya…kupeluk anak itu dan segera kugendong ia. Hm.. umurnya baru 5 tahun analisaku seketika itu. Segera kuajak dia menaiki sepeda motorku dan kuletakkan dia dibelakangku. “Pegang yang erat ya , dik…!”, kataku keras sambil tangan kiriku menutupi dirinya dengan sisi belakang jas hujan milikku. Hati - hati sekali aku menyusuri jalan dimalam yang sangat lebat itu dan akhirnya aku sudah tidak tahan lagi. Kami berhenti di sebuah warung kecil dipinggir jalan yang mulai banjir itu. Kuturunkan ia , “Yuk kita berteduh dulu…..”, kataku pada anak yang malang itu. “Bandrek dua, Buk…..!”, sahutku sambil duduk dibangku kayu reot warung itu. Terlihat ibu warung itu seperti kebingungan memperhatikanku dan berkali kali ia mencuri pandang padaku , tapi karena kedinginan aku tidak memperdulikan ibu itu dan aku lebih sibuk berbicara dengan anak yang disampingku.” Kamu tinggal dimana , dik ? ” kembali aku bertanya pada anak itu. “Ngga tahu om, saya tersesat …!”, suara mungilnya begitu bergetar karena kedinginan. “Oh….”, kataku menganggukkan kepala. Selama hujan lebat itu, aku lebih banyak berbicara dibanding anak itu. 

Hingga akhirnya hujan reda. ” Maukah…kamu tinggal denganku ?”, tanyaku penuh harap dan hanya dibalas oleh anggukan dari anak itu dengan senyum. “Kalau begitu panggil aku ….Ayah…!”, kataku dengan senyum sumringah. ” Ya ….Ayah….!”, jawabnya meluncur dari bibirnya yang mungil. Setelah kubayar minuman bandrek tadi dan segera kami melanjutkan perjalanan ke rumahku. Sesampai dirumah, Hm….terkunci, segan diriku mengetuk pintu dengan keras untuk membangunkan istriku, kubalik alas keset kaki rumahku, kuambil kunci yang sengaja ku selip dibawahnya. Perlahan ku buka pintu dan kududukkan anak itu dikursi rumahku. “Tunggu sebentar ya…..aku akan mengambilkan handuk untukmu…!”, kataku lembut padanya dan lagi- lagi anak itu membalas dengan senyumnya, lalu segera aku ke belakang dan…”Sudah pulang , Pa…!” Suara yg sangat kukenal tiba-tiba muncul dibelakangku dan kutolehkan kepala ke belakang reflek, ” Maaf sayang … aku tak mau mengganggu tidurmu….!”, jawabku lembut tapi masih kaku karena masih menyisakan kaget akibat panggilan tiba - tiba itu. “Ngga apa-apa sayang…!”, kata istriku sambil membuka kemejaku yang basah. “Oh..ya …tadi dijalan aku ada membawa seorang anak yg kehujanan…..sekarang didepan sayang….!”, lontarku lagi sambil menarik tangannya untuk mengikutiku ke ruang tamu. 

Ahhh….anak itu menghilang…..padahal tadi ada dikursi itu….kugosok mataku berkali-kali untuk meyakinkan penglihatanku dan kemudian aku memandangi wajah istriku yang hanya mengkerutkan keningnya menatap padaku. Kulihat pintu tak terbuka…”Sudahlah mungkin aku tadi ilusi….”, jawabku seakan ingin menutup keheranan dimata istriku. “Aku mandi dulu ya sayang….!”, kataku meninggalkan istriku yang diam seribu bahasa yang masih tenggelam dalam keheranannya itu. Aneh memang apalagi keesok harinya aku kembali menjumpai ibu warung yang kusinggahi kemaren malam dan ia mengatakan bahwa aku kemaren hanya seorang diri dan dia mengatakan keanehan padaku karena aku kemaren berbicara seorang diri. Pantasan ibu itu melihatku berulang kali tadi malam pikirku. Merinding campur takut ….dan kini sudah hampir setahun hal itu terjadi.

Mendadak telpon berdering memecahkan lamunanku dan mengembalikan aku kedunia nyata dalam seketika…dengan malas kuraih handphone disakuku, ” Nak , istrimu melahirkan..”, Jelas suara diseberang, itu mertuaku,” Segera ke klinik ‘HARAPAN IBU’ ya….kami sudah bawa Wati kesana..”, lanjutnya. “Iya bu…!” jawabku singkat…”Waduh istriku, mengapa tak kau kabari aku…!”, Desahku bergegas menuruni tangga demi tangga dengan tergesa-gesa.

Akhirnya sampai juga dan segera aku ke kamar bersalin kebetulan dulu aku pernah ke tempat itu dan lagi pula kamarnya jadi satu kesemuanya. Kulihat istriku masih terbaring lemas….dan bayi mungil kemerahan disampingnya. Tiba-tiba mertuaku muncul dari pintu dan langsung menghampiri istriku. ” Mas…Sukmawan mana, pa ?”, tanya istriku. Tertegun sejenak aku….karena sedari tadi aku berada dihadapannya. “Sabar..nak…Suamimu mungkin tidak bisa datang…”,jawab mertuaku begitu parau dan penuh kesedihan yang begitu mendalam.” Suamimu telah tiada nak….ketika menuju kemari dia mengalami kecelakaan…!”, lanjut mertuaku tak kuasa menahan airmatanya lagi. Bagai disambar petir istriku pingsan seketika dan aku hanya bisa tertegun dan air mataku menetes ternyata…..aku telah tiada…..dan kini yang dihadapannya hanya rohku semata………………..

Lima tahun berlalu, Kantor surat kabar tempatku bekerja dulu akhirnya mendapat perintah untuk ditutup. Tekanan demi tekanan menghantam surat kabar itu. Oplahnya menurun drastis. Redakturnya seorang yang idealis, makanya ia dan surat kabarnya tergerus oleh kepentingan-kepentingan politik dan pemerintahan, akhirnya izinnya dicabut. Besok adalah hari terakhir penerbitannya. Semua barang-barang kantor sudah diangkut dan dijual murah ke rumah lelang. Saat itulah laci mejaku yg terkunci selama 5 tahun itu akhirnya dibongkar oleh sahabatku yang juga redaktur koran itu. Beberapa lembar tulisan tanganku dibacanya…ya itu tulisanku 5 tahun yang lalu saat terakhir aku duduk dimeja itu. Tidak seorangpun berani duduk disitu sejak peristiwa itu. Telpon dari mertuaku yang mengatakan bahwa istriku telah melahirkan, yg membuat aku beranjak dari meja itu saat lima tahun yang lalu. Akhirnya aku meninggalkan dunia saat diperjalanan menuju tempat bersalin istriku, aku mengalami kecelakaan hebat yang mengakibatkan nyawaku melayang seketika itu. Nasipku memang malang saat itu.

Waktu berlalu sedemikian cepatnya. Anakku telah menjadi bocah yang lucu dan pintar sekali. Aku kini hanyalah kenangan bagi istriku dan anakku, namun tanpa mereka sadari aku masih berada disisi mereka. Hmmmm….mungkin tepatnya aku hanyalah roh yang penasaran atau mungkin Tuhan memberiku kesempatan untuk melihat keluargaku.”Ibu …dimana ayah…?”, bibir mungil itu menanyakan tentang ayahnya pada ibunya. Ya…ibunya itu adalah Wati, istriku tercinta. Derai airmatanya runtuh seketika dan dipeluknya anak kesayangannya itu.”Ayahmu telah tiada…nak….Ayahmu berada disurga, anakku”,suara lembut membisikkan ketelinga anak semata wayangnya. Aku hanya bisa menatap dari kejauhan dan tak mampu lagi untuk berkata-kata. Anakku tidak menerima hal itu begitu saja, hingga suatu hari manakala ibunya pergi bekerja ,ia hanya dengan pembantu dirumahku. Ia keluar rumah dan pergi menyusuri jalan raya…mungkin ia pernah mendengar bahwa diriku dulu meninggal akibat kecelakaan dijalan raya makanya ia mencari jejak tentang aku. Tentang ayahnya yang tak pernah ia temui……….

Malam itu Wati, istriku, kaget luar biasa karena menemukan anak sewata wayangnya terbaring lemas dalam keadaan baju yg basah dikursi tamu rumahnya. “Ya Allah ….Ridwan…badanmu panas sekali….nak..!” teriak panik Wati, istriku, setelah memegang kening putranya, lalu segera ia mengambil kunci mobil miliknya dan menggendong Ridwan, kemudian melarikannya ke rumah sakit terdekat. Ridwan di infus dan langsung diberikan perawatan serius. ” Bagaimana, Dok..?”, tanya Wati,istriku. ” Oh … Tak apa hanya demam saja , mudah - mudahan malam ini demamnya akan turun, Bu !”, Kata dokter itu meyakinkan istriku yang kelihatan amat sangat cemas. Istriku hanya mampu mengangguk dan kembali memperhatikan putra kami itu dengan wajah sedih. Rupanya pembantu yang menjaga anakku itu mencari Ridwan semalaman karena sejak sore anak itu menghilang dari rumah. Dia sangat takut dan tak berani pulang sebelum menemukan anak kami. sehingga ia ke rumah orangtua istriku untuk meminta tolong kepada mertuaku untuk turut mencari anakku itu. Aneh memang karena tiba-tiba Ridwan, anakku, sudah dirumah dan lebih aneh lagi ternyata rumah masih dalam keadaan terkunci dari luar. “Bunda…bunda….!”, suara mungil itu membangunkan ibunya…..ibunya tertidur semalaman disamping tempat tidurnya. 

Ibunya bangun dan dengan senyum gembira dipeluknya putranya,” Sayang…tadi malam kamu main kemana ?”, tanya ibunya dengan air mata yg mengalir dari pipinya.” Ridwan bertemu ayah, Bu !… ayah menjemput Ridwan dijalan, Bu !….Kami minum diwarung….airnya seperti susu tapi pedas dan panas, Bu !”, katanya bersemangat. Kontan Wati , Istriku kembali menangis dan memeluk putranya kembali. Setelah sekian lama , Istriku, Wati, balik bertanya pada anakku, Ridwan, ” Ayah bilang apa , Nak..?”.” Dia bilang pada Ridwan….Ridwan disuruh panggil Dia… Ayah !”, anaknya diam sejenak seakan mengingat kembali memori tadi malam,” Kami naik Sepeda motor … Persis seperti yang di garasi, Bu ! Lalu ayah membawa saya pulang kerumah dan bilang supaya Ridwan duduk dan menunggu ayah mengambil handuk…lalu Ridwan tertidur , Bu…!” , ujarnya meyakinkan Wati, istriku. Mendadak Tangis istriku meledak dan ia menangis dengan kerasnya….kemudian dia sadar …. dan kembali memeluk putra kami lalu mengecup kening mungil anak kami itu.

Telpon Berdering dari Handphone istriku. ” ini Wati…istri sukmawan ya..?” tanya orang dari seberang HP istriku. ” Benar, Pak…. ada apa ya ?”, tanya Wati, istriku. “Bisa saya bertemu dengan Anda ?” tanya penelpon dari seberang, ” Boleh pak, saya di Rumah Sakit ‘Citra Bunda’ … anak saya sedang sakit !”, jawab Wati,istriku mengiyakan ajakan itu. “Baiklah saya akan kesana sekarang…!”, kata pria diseberang telpon. Pria itu sahabatku redaktur koran tempatku dulu bekerja, Susanto namanya. Tak lama muncul seorang pria didampingi seorang perawat keruangan anakku di rumah sakit itu. ” Nama saya Susanto….anda Wati, istri Sukmawan ?”,tanyanya membuka pembicaraan dengan istriku. ” Ya saya Wati, Ada apa ya, pak ?”,Tanya istriku. ” Ini …bacalah dulu…!” kata Susanto sambil menjulurkan beberapa lembar kertas HVS bertuliskan tinta hitam. Istriku membacanya dengan seksama dan… tak tahan istriku kembali berurai air mata….”Ini tulisan Suamiku…pak ?” suara Wati, istriku terbata-bata. 

Susanto hanya mengangguk…”Boleh saya menerbitkan tulisan ini untuk mengenang Suamimu ? ini adalah tulisan terakhirnya sebelum peristiwa itu….!”, katanya lembut namun jelas penuh harap. “Hari ini… hari terakhir koran kami diterbitkan …mulai besok kami sudah tidak menerbitkan lagi…saya akan pindah ke kota lain…kota ini sudah tidak menjanjikan lagi…!”, suara Susanto tercekat seakan memiliki beban yang amat berat. ” Sebentar Pak….saya akan meneruskan tulisan suami saya sedikit lagi…karena sepertinya tulisan ini harus diakhiri…supaya Ia tenang di alam sana !”, Permintaan Wati, istriku yang langsung dibalas anggukan oleh Susanto. Istriku menulis dibelakang lembaran kertas itu. walaupun lancar namun lama juga istriku menulis di meja kecil disudut tempat tidur anakku. Setelah Selesai diserahkannya pada Susanto, ” Mohon diterbitkan tulisan ini , Pak “…” dan saya akan membayar semua penerbitannya besok …. tolong korannya di sebarkan secara gratis ke seluruh kota….!” pinta istriku meyakinkan Susanto. ” Terimakasih Wati….saya akan memegang amanah ini…karena beliau juga sahabat sejatiku…!”, katanya sambil memasukkan kertas itu langsung ke dalam tasnya. ” Saya Mohon diri dulu….!”, Kata Susanto sambil berjabat tangan dengan istriku dan kemudian ia meninggalkan istriku yang masih berdiri terpaku di depan pintu.

Pagi itu begitu mendung, Susanto beserta anak buahnya keliling menyebarkan koran gratis pada masyarakat di jalanan. Itu wujud solidaritas mereka dengan Surat kabar yang akan tutup hari ini, dan koran ini adalah koran terakhir yang diterbitkan “Suara Negeriku”. Tahukah anda apa yang ditulis oleh Sukmawan dan istrinya ?

Ya benar sekali.ternyata Sukmawan telah menulis ceritanya sendiri jauh sebelum hari ini terjadi sungguh sulit untuk dipercaya bahkan dia sempat menulis puisi untuk istri dan anaknya yg belum lahir waktu itu.puisi untuk istrinya

Wati istriku yg tercinta
Mungkin waktu tak pernah akur dengan hidupku
Mungkin kebahagianku tak sebahagia mereka yg ada di surga.
Namun daku sangat berbahagia hidup denganmu..
Engkau telah menjadi cinta sejatiku.
Tiada keluh dan kesah yg meluncur dari bibirmu

Selain kata kata indah yg menyejukkan hatiku
Wati istriku yg tersayang
Bila waktu menjemput diriku.
Sudikah engkau menyisakan ruang dihatimu
Untuk daku tinggal dipusara hatimu..

Wati istriku yg terkasih
Berilah nama anakku seperti pesanku
Ridwan.nama yang kuberikan padanya
Anak buah cinta kita
Yg lama kita nantikan
Hingga diujung waktu
Menjelang maut menjemputku..
Wati istriku yg terindah

Jagalah anak kita dengan seluruh cintamu
Berikanlah kecupanku disaat pagi membangunkannya
Berikanlah senyumku disaat ia menangis sendu
Berikanlah pelukanku disaat ia merindukanku
Sayangku gantikan aku.
Sebagai tanda cintaku

Sampai suatu saat..
Kita akan kembali bersatu ..
Di surga abadi
yang takkan memisahkan kita lagi.
Kemudian puisi itu dibalas oleh Wati , istri Sukmawan

Sukmawan suamiku. Waktu memang tak akur denganmu , Tapi waktu selalu meninggalkan kenangan dirimu bagi diriku. Sukmawan suamiku, anakmu kini telah besar, dia selalu menanyakan tentang dirimu, bahkan dia pernah bercerita tentang pertemuanmu dengannya malam itu. Persis seperti kejadian malam itu pada lima tahun yang lalu….saat dirimu bertemu dengan anak yang sangat engkau nantikan itu. Kalian memang dipisahkan oleh waktu, namun waktu telah memberikan kesempatan bagi kalian untuk bertemu…..walau hanya satu malam disaat hujan deras, disaat malam yang dingin….disaat orang orang memeluk orang-orang yang dicintainya dan disaat itu juga kalian berpisah oleh batasan waktu. Sukmawan suamiku yang terkasih….mungkin engkau tidak bisa membaca tulisanku ini namun aku percaya engkau mendengarkan langsung dari hatiku………..istirahatlah dengan tenang wahai suamiku…… aku akan menjaga buah cinta kita….aku akan memberikan kecupan darimu setiap pagi dikala ia bangun….aku akan memberikan senyum dan hiburan disaat ia menangis sendu ….dan aku akan memeluknya dikala ia rindu padamu…..Suamiku pujaan hatiku….. tunggu aku…. kelak aku akan bersamamu ….. setelah tiba waktuku dan setelah anak kita sudah menjadi orang yang mampu berdiri dengan kakinya sendiri….Sukmawan nama yg abadi dalam hatiku…..aku sangat mencintai dan merindukan dirimu…………rindukah dirimu padaku……?

PROFIL PENULIS
Nama : Dwi Kurnia Surya
Email : Goonersdwi@gmail.com
Url Fb : http://facebook.com/cecsdwis
User Twitter : Asi_arsenal
Jenis.k : Laki-laki
Anak ke : 2 (DUA) dari 4 (EMPAT) Anak